JAKARTA - Kawasan Pecinan Glodok di Jakarta Barat selama ini identik dengan labirin gang sempit yang menyimpan sejuta kisah sejarah, arsitektur kuno, dan tentu saja, surga kuliner bagi para pelancong rasa.
Namun, bagi sebagian orang, mencari hidangan yang ramah Muslim di tengah dominasi kuliner non-halal di kawasan ini sering kali dianggap sebagai tantangan tersendiri. Padahal, jika kita bersedia menelusuri lebih dalam ke balik riuhnya Pasar Pancoran hingga deretan kios modern di Petak Enam, Glodok menyimpan permata kuliner halal yang rasanya tidak kalah legendaris dan memanjakan lidah.
Memasuki tahun 2026, inklusivitas kuliner di Glodok semakin terasa. Banyak pedagang yang kini secara terbuka mencantumkan label halal atau menggunakan bahan baku yang aman dikonsumsi oleh semua kalangan tanpa mengurangi keautentikan resep turun-temurun. Menjelajahi Glodok bukan lagi sekadar wisata sejarah, melainkan perjalanan diplomasi rasa yang menjembatani keberagaman budaya melalui sepiring hidangan hangat.
Ikon Kelezatan Legendaris di Gang Gloria yang Tak Lekang Waktu
Jika Anda bertanya kepada penikmat kuliner senior mengenai titik awal penjelajahan rasa di Glodok, hampir pasti jawabannya adalah Gang Gloria. Lorong sempit ini adalah jantung dari kuliner legendaris Jakarta. Di sini, salah satu menu wajib yang harus dicoba adalah Bakso Sapi Adam. Warung ini telah berdiri sejak tahun 2000 dan konsisten menyajikan bakso dengan tekstur daging yang kenyal serta kuah bening yang gurih alami. Rahasianya terletak pada penggunaan kaldu sumsum sapi asli yang direbus selama berjam-jam, memberikan aroma harum yang langsung menggugah selera begitu Anda memasuki area tersebut.
Tak jauh dari sana, aroma minyak panas akan menuntun Anda ke gerobak Cakwe Gang Gloria. Jajanan ini bukan sekadar cakwe biasa; ukurannya yang besar dengan tekstur garing di luar namun lembut di dalam menjadikannya teman sempurna untuk menemani jalan-jalan pagi Anda. Menariknya, resep yang digunakan masih sangat tradisional, menggunakan ragi alami yang membuat adonannya memiliki aroma khas yang tidak ditemukan pada cakwe modern di mal-mal besar. Menikmati cakwe ini dengan saus asam pedas cair adalah sebuah ritual wajib yang memberikan keseimbangan rasa yang sempurna.
Sentuhan Modernitas dan Tradisi dalam Satu Wadah di Petak Enam
Bergeser sedikit ke arah Petak Enam di Chandra, Anda akan menemukan suasana yang lebih modern namun tetap mempertahankan nuansa oriental yang kental. Di area ini, pilihan kuliner halal menjadi lebih terkurasi. Pempek Eirin 10 Ulu menjadi salah satu destinasi yang tidak boleh dilewatkan. Berdiri sejak tahun 1981, kedai ini menjamin penggunaan 100 persen daging ikan tenggiri segar tanpa campuran bahan non-halal. Cuko atau kuah hitamnya yang kental dengan keseimbangan rasa pedas, asam, dan manis menjadi magnet utama yang membuat pelanggan rela mengantre panjang, terutama saat akhir pekan.
Bagi penyuka makanan berat dengan sentuhan rempah yang berani, Mie Tarik Lanzhou yang berada di area depan gerbang Pancoran menawarkan pengalaman visual dan rasa yang unik. Anda bisa menyaksikan langsung sang koki menarik adonan tepung hingga menjadi helai-helai mie tipis yang elastis. Mie ini disajikan dalam kuah kaldu sapi bening dengan irisan daging sapi yang empuk dan limpahan daun ketumbar. Hidangan ini merupakan representasi sempurna dari kuliner Muslim Tiongkok yang kini semakin populer di Indonesia, memberikan alternatif pilihan sehat dan mengenyangkan bagi pengunjung Glodok.
Eksplorasi Jajanan Unik dan Minuman Herbal Pereda Panas Dalam
Perjalanan kuliner di Pecinan Glodok tidak akan lengkap tanpa mencicipi kudapan ringan yang tersebar di sepanjang trotoar Jalan Pancoran. Cempedak Goreng Cik Lina adalah salah satu yang paling dicari. Buah cempedak yang manis dan harum dibalut tepung renyah, lalu digoreng hingga kuning keemasan. Sensasi legit saat menggigit daging buahnya memberikan kepuasan tersendiri. Selain itu, pada momen-momen tertentu seperti menjelang perayaan Imlek, kue keranjang halal yang terbuat dari tepung ketan dan gula merah berkualitas menjadi buruan utama untuk dijadikan oleh-oleh atau dinikmati langsung.
Untuk membasuh semua rasa setelah makan besar, Liang Teh menjadi pilihan yang paling bijak. Dijual oleh pedagang asongan dengan termos besar atau di kedai-kedai kecil, minuman herbal berwarna gelap ini dikenal karena khasiatnya meredakan panas dalam. Terbuat dari berbagai jenis akar dan daun herbal tradisional, Liang Teh di Glodok biasanya disajikan dingin dengan rasa yang cenderung tawar namun menyegarkan, memberikan efek cleanse pada tenggorokan setelah menyantap makanan berminyak atau pedas.
Kehangatan Dessert Tradisional sebagai Penutup Perjalanan yang Manis
Sebagai penutup petualangan rasa, arahkan langkah Anda ke penjual Che Hun Tiau di Gedung Candra. Dessert khas Pontianak ini merupakan perpaduan harmonis antara mie sagu bening, kacang merah, bongko (kue hijau dari tepung beras), cincau, dan ketan hitam yang diguyur santan serta sirup gula merah. Teksturnya yang beragam—antara kenyalnya mie sagu dan lembutnya bongko—menciptakan simfoni rasa yang manis dan gurih dalam setiap suapan. Hidangan penutup ini sangat efektif untuk mendinginkan suhu tubuh setelah berjalan-jalan di bawah terik matahari Jakarta.
Menjelajahi sisi halal dari Pecinan Glodok bukan hanya tentang memuaskan rasa lapar, tetapi juga menghargai bagaimana sebuah kawasan bersejarah mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Keberadaan kuliner halal di sini menjadi bukti nyata bahwa perbedaan bisa bersatu dalam harmoni rasa. Jadi, saat Anda mampir ke Glodok, jangan ragu untuk melangkah lebih jauh, bertanya kepada warga lokal, dan menemukan harta karun kuliner yang mungkin belum banyak terjamah, karena setiap sudut Glodok punya cerita lezat yang siap untuk dibagikan.