JAKARTA - Premier League atau Liga Inggris kembali menegaskan posisinya sebagai kompetisi sepak bola yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman.
Menjelang bulan suci Ramadan 1447 Hijriah (yang jatuh pada tahun 2026), otoritas Liga Inggris secara resmi mengumumkan akan melanjutkan prosedur jeda pertandingan (match break) guna memberikan kesempatan bagi para pemain muslim untuk berbuka puasa di tengah laga.
Kebijakan ini pertama kali diperkenalkan secara sistematis beberapa musim lalu dan kini telah menjadi protokol standar yang diapresiasi secara global. Langkah ini memastikan bahwa para bintang lapangan hijau tetap bisa menjalankan kewajiban agamanya tanpa harus mengabaikan performa profesional mereka di atas rumput.
Mekanisme Jeda Pertandingan: Singkat, Tepat, dan Bermakna
Prosedur ini telah dikoordinasikan secara matap antara otoritas liga, klub, dan badan wasit (PGMOL). Berikut adalah mekanisme pelaksanaannya:
Identifikasi Pemain: Sebelum pertandingan dimulai, kapten tim atau staf klub akan berkoordinasi dengan wasit jika terdapat pemain di tim mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Jeda Alami: Wasit akan mencari waktu yang tepat—seperti saat bola keluar lapangan, tendangan gawang, atau lemparan ke dalam—pada waktu magrib yang telah ditentukan.
Durasi Singkat: Pertandingan akan dijeda selama satu hingga dua menit saja. Waktu yang singkat ini digunakan para pemain untuk mengonsumsi cairan (air mineral atau minuman isotonik) serta asupan energi cepat seperti kurma atau gel energi.
Dukungan Penuh dari Klub dan Penggemar
Dukungan terhadap prosedur ini mencerminkan betapa besarnya pengaruh pemain muslim di kancah sepak bola Inggris. Nama-nama besar seperti Mohamed Salah, Ibrahima Konate, hingga Amad Diallo sering kali tetap bermain penuh meski sedang berpuasa.
Para pelatih di Liga Inggris juga menyambut baik aturan ini karena membantu menjaga kebugaran pemain. Dengan adanya kepastian waktu berbuka, risiko dehidrasi atau penurunan performa drastis akibat kekurangan nutrisi dapat diminimalisir. Penggemar di stadion pun kini terbiasa memberikan tepuk tangan (applause) saat pertandingan dijeda, menunjukkan atmosfer inklusif yang semakin kuat di tanah Britania.
Simbol Inklusivitas di Panggung Global
Keputusan Liga Inggris untuk mempatenkan prosedur ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh dunia tentang pentingnya penghormatan terhadap identitas budaya dan agama dalam olahraga. Inggris menjadi salah satu pionir dalam menciptakan lingkungan kerja yang ramah bagi atlet muslim, yang kemudian mulai dilirik oleh liga-liga besar Eropa lainnya.
Selain jeda pertandingan, banyak klub Liga Inggris kini juga menyediakan ruang salat di stadion serta ahli gizi khusus untuk membantu pemain mengatur pola makan selama bulan Ramadan. Semua ini dilakukan agar keindahan sepak bola dan kesucian ibadah dapat berjalan beriringan.