Makna Kolak Pisang di Bulan Ramadan yang Bukan Sekadar Takjil Manis Biasa

Kamis, 19 Februari 2026 | 09:34:13 WIB
Makna Kolak Pisang di Bulan Ramadan yang Bukan Sekadar Takjil Manis Biasa

JAKARTA - Setiap bulan Ramadan tiba, suasana dapur di banyak rumah mulai dipenuhi aroma santan dan gula merah yang dimasak perlahan. Kehangatan aroma tersebut seolah menjadi penanda bahwa waktu berbuka akan segera tiba.

Di antara banyak pilihan takjil, kolak selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia. Kehadirannya bukan hanya karena rasa manisnya, tetapi juga karena nilai tradisi yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Kolak menjadi hidangan manis yang identik dengan Ramadan di Indonesia. Menu manis berbahan dasar santan dan gula ini menjadi salah satu takjil favorit untuk berbuka puasa.

Alasannya, karena kolak mudah dibuat, bahannya terjangkau, dan bisa disajikan dalam jumlah besar untuk keluarga maupun pembagian takjil di masjid. Tradisi berbagi kolak di lingkungan masyarakat memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan selama Ramadan.

Kehadiran kolak sering kali tidak hanya sebagai makanan, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dalam momen berbuka. Banyak orang merasakan nostalgia masa kecil setiap kali menikmati semangkuk kolak hangat.

Bahan Sederhana yang Menjadi Ciri Khas Kolak Ramadan

Secara umum, kolak berisi bahan-bahan seperti pisang kepok atau raja, ubi jalar, labu kuning, kolang-kaling, santan, gula merah dan daun pandan. Di beberapa daerah, kolak juga ditambahkan biji salak, kacang hijau, atau tape singkong.

Perpaduan bahan tersebut menghasilkan rasa manis yang lembut dengan aroma khas pandan yang menggugah selera. Tekstur berbagai isian membuat kolak terasa kaya namun tetap mudah dinikmati setelah seharian berpuasa.

Bahan-bahan kolak sangat mudah ditemukan di pasar tradisional maupun warung sekitar rumah. Hal inilah yang menjadikan kolak sebagai hidangan yang merakyat dan dapat dibuat oleh siapa saja.

Selain praktis, kolak juga fleksibel karena dapat dimodifikasi sesuai selera keluarga. Setiap daerah bahkan memiliki versi kolak yang berbeda dengan ciri khas masing-masing.

Kepraktisan dalam proses memasak membuat kolak sering dipilih sebagai menu untuk dibagikan kepada banyak orang. Dalam satu kali memasak, kolak bisa dinikmati bersama-sama tanpa membutuhkan biaya besar.

Sejarah Kolak dalam Tradisi Penyebaran Islam di Nusantara

Mulanya, kolak berkembang di wilayah Jawa dan Betawi sejak masa penyebaran Islam oleh para wali. Kata “kolak” diduga berasal dari istilah Arab 'khalaqa' (mencipta) atau 'khalaq' (akhlak).

Tradisi tersebut bukan sekadar kebiasaan kuliner, tetapi memiliki akar sejarah, budaya, dan makna. Kemudian diasosiasikan dengan ajakan memperbaiki diri selama Ramadan.

Dalam tradisi dakwah Wali Songo, makanan sering dijadikan media pendekatan budaya. Kolak yang bercita rasa manis dianggap simbol harapan agar umat memperbaiki akhlak dan kembali pada fitrah selama bulan suci.

Pendekatan budaya melalui makanan membuat ajaran agama lebih mudah diterima masyarakat pada masa itu. Kolak menjadi salah satu contoh bagaimana kuliner dapat menjadi sarana dakwah yang halus dan penuh makna.

Seiring waktu, tradisi ini terus bertahan dan menjadi bagian dari identitas Ramadan di Indonesia. Kolak akhirnya tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga sebagai warisan budaya religius.

Kombinasi sejarah dakwah, nilai budaya, serta manfaat energi cepat inilah yang membuat kolak bertahan sebagai takjil favorit lintas generasi. Dengan cita rasa yang sederhana namun sarat makna, kolak menjadi bagian dari identitas kuliner khas Ramadan di Indonesia.

Nilai Kebersamaan dan Tradisi Berbagi Melalui Semangkuk Kolak

Kegiatan memasak kolak sering dilakukan bersama anggota keluarga menjelang waktu berbuka. Momen ini menciptakan kebersamaan yang jarang ditemukan di hari-hari biasa.

Di banyak lingkungan, kolak juga dimasak secara gotong royong untuk dibagikan kepada tetangga atau jamaah masjid. Tradisi ini mempererat hubungan sosial sekaligus menumbuhkan semangat berbagi.

Kolak sering hadir dalam kegiatan buka puasa bersama karena mudah disajikan dalam porsi besar. Hidangan ini mampu menyatukan banyak orang dalam satu meja tanpa perbedaan.

Kebiasaan berbagi kolak menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi sarana memperkuat nilai kemanusiaan. Ramadan pun terasa lebih hangat karena adanya tradisi sederhana tersebut.

Tidak sedikit orang yang menjadikan kolak sebagai menu wajib setiap hari selama Ramadan. Kehadirannya seolah melengkapi suasana spiritual dan kekeluargaan di bulan suci.

Manfaat Gizi Kolak sebagai Menu Pembuka Puasa

Dari sisi gizi, makanan manis seperti kolak memang dianjurkan untuk berbuka dalam jumlah secukupnya. Gula alami dari gula aren dan karbohidrat dari pisang atau ubi membantu menaikkan kadar gula darah secara bertahap.

Pisang dan ubi juga mengandung serat, kalium, serta vitamin yang membantu pemulihan energi. Kandungan tersebut penting untuk mengembalikan stamina setelah tubuh berpuasa seharian.

Sementara santan memberikan rasa kenyang lebih lama karena kandungan lemaknya. Kombinasi karbohidrat dan lemak membuat tubuh memperoleh energi yang cukup sebelum menyantap makanan utama.

Kolak juga relatif mudah dicerna karena teksturnya lembut dan tidak terlalu berat bagi lambung. Hal ini menjadikannya cocok sebagai makanan pembuka sebelum hidangan lain.

Meski demikian, konsumsi tetap dianjurkan tidak berlebihan. Karena kandungan gula dan lemaknya cukup tinggi.

Mengatur porsi menjadi kunci agar manfaat kolak tetap terasa tanpa memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan. Menikmati kolak secukupnya akan membantu tubuh beradaptasi secara perlahan setelah berpuasa.

Kolak pada akhirnya bukan sekadar sajian manis untuk mengisi perut saat berbuka. Hidangan ini menyimpan nilai sejarah, budaya, kebersamaan, dan makna spiritual yang terus hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Terkini