JAKARTA - Memasuki pekan terakhir Februari 2026, denyut ekonomi di pasar-pasar tradisional mulai menunjukkan fluktuasi yang signifikan.
Fenomena tahunan yang selalu membayangi masyarakat menjelang bulan suci Ramadhan kini mulai terlihat nyata di Pasar Palmerah, Jakarta Pusat. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, sejumlah komoditas bahan pokok atau sembako mengalami tren kenaikan harga yang bervariasi.
Kenaikan ini tentu saja mulai memicu kekhawatiran, baik bagi para pedagang yang mengeluhkan penurunan omzet maupun bagi konsumen rumah tangga yang harus memutar otak lebih keras demi mencukupi kebutuhan pangan harian di tengah situasi ekonomi yang dinamis.
Dinamika Kenaikan Harga Bahan Pokok Utama Di Pasar Tradisional Jakarta
Kenaikan harga yang terjadi di Pasar Palmerah tidak terjadi secara serentak pada semua barang, namun menyasar pada komoditas yang paling krusial. Beras, sebagai kebutuhan utama masyarakat, menjadi salah satu barang yang harganya merangkak naik.
Selain beras, kelompok bumbu dapur seperti cabai merah keriting, cabai rawit, hingga bawang merah juga menunjukkan grafik kenaikan yang cukup tajam. Para pedagang menyebutkan bahwa kenaikan ini sudah mulai dirasakan sejak beberapa hari terakhir, yang dipicu oleh berkurangnya pasokan dari daerah penghasil serta meningkatnya permintaan pasar.
Kenaikan harga ini bervariasi antara 10% hingga 20% dari harga normal sebelumnya. Sebagai contoh, harga cabai rawit merah yang sebelumnya berada di kisaran harga standar, kini mulai menembus angka yang cukup memberatkan kantong konsumen.
Kondisi ini memaksa para pembeli untuk mengurangi volume pembelian mereka. Jika biasanya konsumen membeli dalam hitungan kilogram, kini banyak yang beralih membeli dalam satuan ons demi menjaga agar anggaran belanja dapur tidak membengkak secara drastis sebelum Ramadhan tiba.
Keluhan Pedagang Dan Konsumen Terkait Lonjakan Harga Sembako Menjelang Lebaran
Di sisi lain, para pedagang di Pasar Palmerah berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, mereka harus menyesuaikan harga jual dengan harga yang mereka peroleh dari distributor atau pasar induk. Di sisi lain, kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada daya beli masyarakat yang menurun.
Banyak pedagang mengeluhkan kondisi pasar yang menjadi lebih sepi dibandingkan hari biasanya. Mereka khawatir jika tren kenaikan ini terus berlanjut tanpa ada intervensi, maka target keuntungan menjelang hari raya tidak akan tercapai karena stok barang yang menumpuk akibat kurangnya pembeli.
Bagi konsumen, terutama para ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro seperti pedagang warung nasi, kenaikan harga sembako adalah pukulan telak. Mereka harus sangat selektif dalam memilih bahan makanan dan sering kali harus mencari alternatif bahan lain yang lebih terjangkau.
Ketidakpastian harga ini menciptakan suasana psikologis yang kurang nyaman di pasar, di mana tawar-menawar antara penjual dan pembeli menjadi lebih alot dari biasanya. Masyarakat sangat berharap agar kenaikan ini tidak terus melambung tinggi hingga mencapai puncaknya pada saat Idul Fitri nanti.
Faktor Penyebab Terjadinya Fluktuasi Harga Pangan Di Pasar Wilayah Jakarta
Ada beberapa faktor teknis dan non-teknis yang disinyalir menjadi penyebab utama merangkaknya harga sembako di Pasar Palmerah. Faktor cuaca di daerah sentra produksi pangan sering kali menjadi kendala utama dalam distribusi barang. Curah hujan yang tidak menentu dapat merusak hasil panen dan menghambat mobilitas transportasi pengangkut bahan pangan menuju ibu kota.
Selain itu, aspek psikologi pasar menjelang hari besar keagamaan sering kali dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk menahan stok, sehingga menciptakan kelangkaan semu yang berujung pada kenaikan harga di tingkat pengecer.
Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan segera melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap rantai distribusi ini. Koordinasi dengan pasar induk harus diperkuat untuk memastikan bahwa pasokan barang tetap aman dan terjaga keberlangsungannya.
Tanpa pengawasan yang ketat, fluktuasi harga ini dikhawatirkan akan menjadi liar dan sulit dikendalikan. Pemantauan harga harian secara real-time di tingkat pasar tradisional sangat diperlukan sebagai basis data bagi pemerintah untuk mengambil kebijakan operasi pasar murah jika situasi sudah dianggap tidak kondusif bagi masyarakat luas.
Upaya Mitigasi Dan Harapan Masyarakat Terhadap Stabilitas Harga Pangan Nasional
Menghadapi situasi ini, masyarakat menaruh harapan besar pada langkah nyata pemerintah untuk menstabilkan harga. Operasi pasar murah menjadi salah satu solusi yang paling dinanti guna membantu warga menengah ke bawah mendapatkan sembako dengan harga yang lebih rasional.
Selain itu, optimalisasi peran Bulog dalam mendistribusikan cadangan pangan nasional harus dilakukan secara masif dan merata hingga ke pasar-pasar satelit seperti Palmerah. Ketersediaan stok yang melimpah adalah kunci utama untuk meredam spekulasi harga yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Ke depannya, penguatan ketahanan pangan di tingkat lokal harus terus ditingkatkan agar Jakarta tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah yang rentan terhadap kendala logistik.
Dengan adanya sinergi antara kebijakan pemerintah yang pro-rakyat dan kesadaran pedagang untuk tidak mengambil keuntungan secara berlebihan, diharapkan stabilitas ekonomi di pasar tradisional dapat terjaga.
Perjalanan menuju Ramadhan dan Lebaran 2026 seharusnya menjadi momen yang penuh berkah, bukan justru menjadi beban berat bagi masyarakat akibat harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali di pasar-pasar rakyat.