PGEO Kembangkan Teknologi Panas Bumi Bersama Perusahaan Filipina Guna Perkuat Ketahanan Energi

Rabu, 25 Februari 2026 | 14:44:23 WIB
PGEO Kembangkan Teknologi Panas Bumi Bersama Perusahaan Filipina Guna Perkuat Ketahanan Energi

JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) terus menunjukkan agresivitasnya dalam memimpin transisi energi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Langkah terbaru emiten berkode saham PGEO ini ditandai dengan jalinan kerja sama strategis bersama perusahaan energi asal Filipina untuk pengembangan teknologi panas bumi tingkat lanjut. Kolaborasi lintas negara ini diresmikan sebagai upaya bersama untuk mengoptimalkan potensi energi geotermal yang melimpah di kedua negara, sekaligus mempercepat pencapaian target emisi nol bersih (Net Zero Emission).

Melalui kemitraan ini, PGEO berkomitmen untuk melakukan transfer teknologi dan berbagi keahlian teknis dalam mengelola sumber daya panas bumi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Filipina dan Indonesia dikenal sebagai dua negara dengan cadangan panas bumi terbesar di dunia karena posisinya yang berada di jalur Ring of Fire.

Oleh karena itu, sinergi antara PGEO dengan perusahaan Filipina dipandang sebagai langkah logis untuk memperkuat posisi kawasan ASEAN sebagai pusat pengembangan energi terbarukan global di tahun 2026.

Fokus utama dari kerja sama ini bukan hanya sekadar ekspansi kapasitas, melainkan juga inovasi pada sistem ekstraksi dan pemeliharaan reservoir yang lebih modern guna meminimalisir risiko operasional dan meningkatkan output listrik secara signifikan.

Inovasi Teknologi Dan Optimalisasi Operasional Panas Bumi Masa Depan

Salah satu poin krusial dalam kerja sama ini adalah pengembangan teknologi pengolahan air panas bumi dan pemanfaatan brine (cairan sisa ekstraksi) untuk meningkatkan efisiensi pembangkit. Dengan mengadopsi teknologi yang telah terbukti di Filipina, PGEO berharap dapat mengimplementasikan metode yang lebih efektif dalam menjaga tekanan reservoir.

Hal ini sangat penting untuk memastikan keberlangsungan produksi listrik dalam jangka panjang tanpa merusak ekosistem lingkungan sekitar.

Selain itu, kedua belah pihak juga akan melakukan riset bersama terkait teknologi Binary Cycle. Teknologi ini memungkinkan pemanfaatan sumber panas bumi suhu rendah untuk menghasilkan listrik, yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis. Dengan inovasi ini, potensi panas bumi yang tersebar di pelosok Indonesia dapat diaktivasi lebih luas lagi.

Kerja sama ini menjadi bukti bahwa PGEO tidak hanya fokus pada eksploitasi konvensional, tetapi juga bergerak ke arah digitalisasi lapangan panas bumi melalui sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan bersama mitra Filipina tersebut.

Dampak Strategis Bagi Kinerja Perusahaan Dan Kepercayaan Investor Global

Bagi para investor di pasar modal, langkah PGEO ini memberikan sinyal positif mengenai prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan. Ekspansi teknologi melalui kemitraan internasional diproyeksikan akan menekan biaya operasional (OpEx) dan meningkatkan margin keuntungan di masa depan.

Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor Environmental, Social, and Governance (ESG), kolaborasi ini semakin memperkuat profil PGEO sebagai instrumen investasi hijau yang menjanjikan di tengah tren global yang mulai meninggalkan energi fosil.

Kepercayaan investor juga didasari pada rekam jejak Filipina yang telah lama menjadi pionir dalam pemanfaatan geotermal untuk kebutuhan industri. Dengan menyerap ilmu dari perusahaan Filipina, PGEO dapat mempercepat waktu pengerjaan proyek-proyek baru di Indonesia yang selama ini terkendala oleh tantangan teknis geografis.

Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak langsung pada peningkatan pendapatan perusahaan seiring dengan bertambahnya kapasitas terpasang dari wilayah kerja panas bumi yang dikelola secara lebih optimal.

Mendorong Ketahanan Energi Kawasan Melalui Sinergi ASEAN Power Grid

Di tingkat regional, kerja sama PGEO dan perusahaan Filipina ini merupakan manifestasi dari semangat ASEAN Power Grid. Dengan semakin matangnya teknologi panas bumi di kawasan, integrasi jaringan listrik antarkabut negara menjadi lebih memungkinkan.

Panas bumi memiliki keunggulan sebagai sumber energi beban dasar (baseload) yang stabil dibandingkan energi surya atau angin yang bersifat fluktuatif. Keunggulan inilah yang ingin dimaksimalkan oleh PGEO untuk menjamin ketahanan energi nasional sekaligus berkontribusi pada stabilitas energi di Asia Tenggara.

Pemerintah Indonesia pun menyambut baik kolaborasi ini sebagai bagian dari diplomasi energi. Melalui PGEO, Indonesia menunjukkan perannya sebagai pemimpin dalam pengembangan energi bersih yang mampu berkolaborasi secara setara dengan pemain global.

Sinergi ini diharapkan tidak berhenti pada tataran teknologi saja, tetapi juga merambah ke arah pembiayaan hijau bersama (joint green financing) untuk mendanai proyek-proyek panas bumi skala besar yang membutuhkan modal intensif namun memiliki dampak lingkungan yang sangat rendah.

Komitmen Keberlanjutan Dan Harapan Untuk Masa Depan Geotermal Indonesia

PGEO menegaskan bahwa setiap langkah pengembangan teknologi akan selalu mengedepankan aspek pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal di sekitar area proyek.

Panas bumi adalah energi yang bersahabat dengan alam karena jejak karbonnya yang sangat kecil dan kebutuhan lahan yang jauh lebih efisien dibandingkan pembangkit lainnya. Melalui kerja sama dengan Filipina, PGEO bertekad untuk menciptakan standar operasional baru yang menjadi acuan bagi industri panas bumi dunia.

Harapan besarnya adalah Indonesia dapat segera mencapai target bauran energi terbarukan melalui kontribusi signifikan dari sektor geotermal. Dengan dukungan teknologi terbaru dari hasil kemitraan ini, PGEO optimis dapat membuka potensi-potensi baru di wilayah terpencil yang selama ini belum terjamah.

Langkah ini bukan hanya tentang keuntungan korporasi semata, melainkan tentang mewarisi bumi yang lebih hijau dan energi yang lebih mandiri bagi generasi mendatang.

Terkini