JAKARTA - Dinamika harga pangan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membawa angin segar bagi para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner pada akhir Februari ini. Berdasarkan pantauan terbaru di berbagai pasar tradisional pada 25 Februari 2026, terjadi tren penurunan harga yang cukup signifikan pada komoditas sayuran, khususnya pada keluarga cabai.
Fenomena ini menjadi sorotan karena penurunan tidak hanya terjadi pada satu varietas saja, melainkan pada empat jenis cabai sekaligus secara bersamaan, yang memberikan dampak langsung pada menurunnya beban belanja harian masyarakat di tengah fluktuasi ekonomi.
Perubahan harga ini terpantau merata di sejumlah pasar besar seperti Pasar Kranggan, Pasar Beringharjo, hingga Pasar Demangan. Penurunan harga yang terjadi serentak ini memberikan indikasi bahwa pasokan dari tingkat petani menuju pasar-pasar di Yogyakarta mulai stabil dan melimpah.
Bagi warga Jogja, momen ini tentu menjadi kesempatan untuk mencukupi kebutuhan dapur dengan biaya yang lebih efisien dibandingkan pekan-pekan sebelumnya yang sempat mengalami lonjakan harga cukup tajam akibat kendala cuaca di beberapa daerah penghasil.
Tren Penurunan Harga Komoditas Cabai di Pasar Tradisional Yogyakarta
Penurunan harga yang paling mencolok terjadi pada kelompok cabai yang selama ini sering menjadi pemicu inflasi daerah. Berdasarkan data terbaru, harga cabai merah keriting mengalami penurunan menjadi Rp38.000 per kilogram, sementara cabai merah besar kini dibanderol di kisaran Rp35.000 per kilogram. Penurunan ini disambut baik oleh para pedagang yang mengaku mulai melihat peningkatan volume pembelian dari konsumen sejak harga mulai melandai dan kembali ke angka yang lebih rasional bagi kantong masyarakat.
Cabai rawit merah yang sebelumnya sempat menyentuh harga tinggi, kini dapat ditemukan dengan harga yang jauh lebih terjangkau yakni di angka Rp40.000 per kilogram. Hal yang sama juga terjadi pada cabai rawit hijau yang kini berada di posisi harga Rp32.000 per kilogram. Para pedagang di Pasar Beringharjo menyebutkan bahwa pasokan dari daerah penyangga seperti Sleman dan Bantul sedang dalam masa panen yang bagus, sehingga stok di lapak pedagang sangat mencukupi untuk memenuhi lonjakan permintaan harian.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan awal bulan lalu di mana cuaca ekstrem sempat menghambat distribusi dan merusak kualitas panen di tingkat petani. Saat ini, dengan cuaca yang relatif lebih stabil di wilayah DIY, kualitas cabai yang masuk ke pasar juga terlihat lebih segar dan memiliki daya simpan yang lebih lama. Hal ini tentu meningkatkan nilai tambah bagi konsumen yang menginginkan bahan pangan berkualitas premium dengan harga yang sangat masuk akal bagi anggaran rumah tangga mereka.
Selain faktor cuaca, kelancaran rantai distribusi dari pengepul menuju pedagang eceran juga berperan besar dalam penurunan harga serentak ini. Tidak adanya kendala logistik berarti di jalur-jalur utama masuknya komoditas sayuran ke Yogyakarta memastikan tidak adanya penumpukan stok di satu titik distribusi. Stabilitas harga ini diharapkan dapat bertahan lama agar daya beli masyarakat terus menguat dan memberikan dampak positif pada perputaran uang di tingkat pasar tradisional hingga ke pedagang kecil.
Dinamika Harga Sembako dan Kebutuhan Pokok Lainnya di DIY
Selain komoditas cabai, pergerakan harga kebutuhan pokok lainnya di Yogyakarta terpantau relatif stabil meski ada beberapa komoditas yang masih bertahan di harga lama. Harga beras kualitas medium saat ini dipatok pada harga Rp13.000 per kilogram, sementara beras premium berada di angka Rp15.500 per kilogram. Penjualan minyak goreng kemasan juga terpantau stabil di harga Rp18.000 per liter, yang menandakan bahwa intervensi pemerintah daerah melalui operasi pasar dan pengawasan stok cukup efektif.
Harga gula pasir untuk konsumsi rumah tangga masih berada dalam batas wajar sesuai dengan standar pasar yakni di harga Rp17.500 per kilogram. Ketersediaan stok di gudang-gudang distributor di wilayah DIY juga dipastikan aman untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam beberapa minggu ke depan. Stabilitas pada harga komoditas utama ini sangat krusial karena merupakan barang yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi di Yogyakarta, mulai dari mahasiswa hingga pengusaha hotel.
Sementara itu, untuk harga daging ayam ras saat ini dibanderol sebesar Rp34.000 per kilogram dan harga telur ayam ras berada di posisi Rp27.000 per kilogram. Fluktuasi kecil memang kadang terjadi di pasar eceran, namun angka tersebut masih dalam batas toleransi pasar yang normal dan tidak memberatkan konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara permintaan konsumen dan pasokan dari para peternak lokal di sekitar Yogyakarta masih terjaga dengan sangat baik di tengah situasi pasar yang dinamis.
Bagi komoditas bumbu dapur lainnya seperti bawang putih, harganya juga terpantau stabil di angka Rp36.000 per kilogram mengacu pada ketersediaan stok nasional. Meskipun Yogyakarta bukan daerah penghasil utama bawang putih, jalur distribusi dari pelabuhan hingga ke pasar-pasar lokal di DIY terpantau tanpa hambatan yang berarti. Konsumen dapat menemukan bawang putih jenis kating maupun honan dengan kualitas yang baik dan harga yang tidak jauh berbeda dari periode pemantauan harga di hari-hari sebelumnya.
Dampak Positif Melimpahnya Pasokan Pertanian Terhadap Ekonomi Masyarakat
Melimpahnya pasokan cabai yang berujung pada penurunan harga serentak ini memberikan napas lega bagi para pengusaha warung makan atau shelter kuliner di Jogja. Mengingat Yogyakarta adalah kota wisata dengan ribuan unit usaha kuliner, harga bumbu dapur yang bersahabat sangat membantu dalam menekan biaya produksi tanpa harus menaikkan harga jual produk makanan kepada konsumen. Ini menjadi katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata dan jasa boga yang menjadi tulang punggung ekonomi DIY.
Para pemilik warung sate, gudeg, hingga penyetan yang menggunakan cabai dalam jumlah besar setiap harinya mengaku sangat terbantu dengan kondisi penurunan harga ini. Margin keuntungan yang sebelumnya tergerus akibat tingginya harga bumbu dapur, kini mulai kembali pada angka yang lebih menguntungkan bagi pelaku UMKM. Hal ini juga memungkinkan para pelaku usaha untuk tetap memberikan porsi dan kualitas rasa yang sama kepada pelanggan setianya, yang pada akhirnya menjaga loyalitas konsumen di pasar kuliner Yogyakarta.
Dari sisi konsumen rumah tangga, penurunan harga sembako dan sayuran ini memberikan ruang bagi mereka untuk mengalokasikan anggaran belanja ke kebutuhan mendesak lainnya. Di tengah situasi ekonomi yang dinamis, kepastian harga pangan di pasar tradisional menjadi harapan besar bagi setiap keluarga untuk menjaga ketahanan finansial mereka. Kemampuan pasar dalam menyediakan bahan pangan murah secara tidak langsung juga berkontribusi pada terjaganya angka inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta agar tetap di batas aman.
Pemerintah daerah melalui dinas terkait juga terus melakukan pengawasan agar tidak terjadi praktik penimbunan yang dapat merusak harga yang sudah mulai stabil ini. Kerjasama antar daerah penghasil dan daerah konsumen terus diperkuat guna memastikan distribusi pangan berjalan secara adil dan merata. Transparansi informasi harga harian seperti ini sangat penting agar masyarakat dapat merencanakan belanja mereka dengan lebih bijak dan mendapatkan nilai terbaik dari uang yang mereka keluarkan.
Harapan Stabilitas Harga Jelang Momentum Hari Besar Mendatang
Melihat tren positif pada 25 Februari 2026 ini, muncul harapan besar agar stabilitas harga dapat terus terjaga hingga memasuki bulan-bulan berikutnya di tahun ini. Mengingat siklus tahunan di mana permintaan akan meningkat tajam saat mendekati hari-hari besar keagamaan, penguatan stok sejak dini menjadi langkah antisipasi yang mutlak dilakukan oleh instansi terkait. Masyarakat berharap pemerintah terus mengawal ketersediaan pangan agar tidak terjadi kelangkaan barang yang berujung pada lonjakan harga mendadak.
Petani di wilayah Sleman, Bantul, dan Kulon Progo sebagai penyangga utama kebutuhan pangan Yogyakarta diharapkan tetap mendapatkan perlindungan harga di tingkat produsen yang layak. Penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa meskipun harga di pasar turun bagi konsumen, para petani tidak mengalami kerugian yang dalam akibat harga beli yang terlalu rendah. Keseimbangan harga yang adil bagi petani dan terjangkau bagi konsumen adalah kunci ketahanan pangan yang berkelanjutan di wilayah Yogyakarta.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat untuk berbelanja secukupnya dan tidak melakukan panic buying tetap relevan untuk terus disuarakan oleh otoritas pasar. Dengan perilaku belanja yang bijak dari konsumen, stabilitas harga yang sudah terbentuk di pasar akan lebih sulit untuk dimanipulasi oleh spekulan yang mencari keuntungan pribadi. Kesadaran kolektif antara pedagang dan pembeli dalam menjaga kewajaran harga akan menciptakan ekosistem pasar yang sehat dan menguntungkan bagi seluruh pemangku kepentingan.
Sebagai penutup, kondisi harga sembako di Yogyakarta hari ini, khususnya penurunan harga empat jenis cabai secara bersamaan, merupakan sinyal positif bagi perekonomian lokal. Keberhasilan dalam menjaga distribusi dan produksi pangan di tingkat daerah terbukti mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat luas. Semoga tren baik ini terus berlanjut, menjadikan Yogyakarta sebagai daerah dengan kemandirian pangan yang kuat dan harga yang selalu bersahabat bagi seluruh warganya tanpa terkecuali.