JAKARTA - Perayaan Natal Nasional 2025 menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali nilai kebersamaan di tengah keberagaman Indonesia.
Dalam suasana penuh kehangatan, pesan persatuan dan toleransi disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di hadapan ribuan umat yang hadir di Tennis Indoor Senayan, Jakarta.
Acara yang digelar pada Senin tersebut tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga refleksi kebangsaan. Presiden menekankan bahwa peringatan Natal Nasional merupakan gambaran nyata harmoni sosial yang telah lama menjadi kekuatan bangsa Indonesia.
Natal Nasional sebagai Cermin Kerukunan
Presiden Prabowo menegaskan bahwa Perayaan Natal Nasional 2025 mencerminkan kuatnya persatuan dan kerukunan bangsa. Menurut Kepala Negara, keberagaman yang dimiliki Indonesia justru menjadi fondasi utama dalam membangun keharmonisan sosial.
“Perayaan ini adalah kehormatan bagi saya. Perayaan ini membuktikan bangsa Indonesia bangsa yang rukun, bangsa yang harmonis. Kita saling hormat-menghormati,” ujar Presiden dalam sambutannya.
Ia menilai, semangat kebersamaan yang terlihat dalam perayaan Natal Nasional menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi masyarakat untuk hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai.
Teladan Pendiri Bangsa tentang Toleransi
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap nilai toleransi yang telah diwariskan para pendiri bangsa. Nilai tersebut, menurutnya, telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia sejak awal kemerdekaan.
Presiden mencontohkan sosok Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang membangun Masjid Istiqlal sebagai simbol persatuan nasional. Ia menekankan bahwa arsitek masjid terbesar di Indonesia itu justru berasal dari kalangan Nasrani.
“Saya sangat bangga dengan contoh pemimpin-pemimpin kita. Bung Karno Presiden, dia membuat masjid terbesar Republik Indonesia, Masjid Istiqlal. Arsiteknya ditunjuk orang Nasrani. Di mana ada seperti ini?” ungkap Presiden.
Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar wacana, melainkan telah diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata sejak masa awal republik berdiri.
Pengalaman Pribadi Lintas Iman
Presiden Prabowo turut berbagi pengalaman pribadi yang mencerminkan semangat persaudaraan lintas agama. Ia menceritakan proses pembangunan masjid di Hambalang yang melibatkan arsitek serta para pekerja beragama Katolik.
Selain itu, Presiden juga mengisahkan pengalamannya membina sebuah kelompok musik yang anggotanya berasal dari latar belakang agama berbeda. Bagi Presiden, perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk bekerja sama dan saling menghormati.
Pengalaman-pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa persatuan dapat tumbuh subur apabila setiap individu menjunjung nilai saling percaya dan menghargai satu sama lain.
Nilai Kebersamaan dalam Pengabdian TNI
Lebih lanjut, Presiden Prabowo mengingat kembali pengalamannya saat bertugas sebagai prajurit TNI. Dalam masa pengabdian tersebut, ia memimpin prajurit dengan latar belakang agama yang beragam.
Ia menegaskan bahwa dalam konteks pengabdian kepada negara, perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi sekat. Loyalitas dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara berada di atas segala perbedaan.
“Waktu di tentara, anak buah saya ada yang Hindu, ada yang Katolik, ada yang Protestan. Saya masih ingat, anak buah saya yang gugur, masih ingat. Waktu saya perintahkan dia maju, dia tidak bertanya, dia melaksanakan tugas dia,” kata Presiden.
Kisah tersebut menjadi gambaran nyata tentang semangat pengorbanan dan persaudaraan yang melampaui batas agama dan latar belakang sosial.
Bhinneka Tunggal Ika sebagai Kekuatan Bangsa
Menurut Presiden Prabowo, seluruh kisah yang ia sampaikan mencerminkan nilai luhur Bhinneka Tunggal Ika. Nilai tersebut dinilai sebagai kekuatan utama bangsa Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memelihara persatuan dan memperkuat kerja sama antarumat beragama. Ia juga menekankan pentingnya sikap saling mengasihi, menghormati, melindungi, serta memaafkan demi terciptanya kehidupan berbangsa yang harmonis.
Ajakan tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa persatuan tidak terbentuk secara otomatis, melainkan harus dirawat melalui sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Permohonan Maaf dan Komitmen Pemerintah
Dalam suasana penuh kehangatan, Presiden Prabowo juga menyampaikan permohonan maaf secara pribadi kepada seluruh rakyat Indonesia. Permohonan tersebut disampaikan sebagai bentuk kerendahan hati dan tanggung jawab moral sebagai pemimpin bangsa.
“Saya pribadi sebagai Prabowo Subianto dan sebagai Presiden Republik Indonesia, kalau ada kata-kata saya yang salah, yang menyinggung perasaan siapapun, saya mohon maaf sebesar-besarnya,” ucap Presiden.
Menutup sambutannya, Presiden menegaskan komitmen pemerintah untuk terus bekerja keras dalam menghapus kemiskinan dan mengurangi penderitaan rakyat. Ia menyoroti perhatian khusus pemerintah terhadap daerah-daerah yang terdampak bencana.
“Kami bekerja keras, mengurangi penderitaan dan kesulitan rakyat kita. Apalagi sekarang, di daerah-daerah bencana. Kami bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita. Percayalah itu, itu niat kami dan kami sangat optimis, kami sangat percaya bahwa kami berada di jalan yang benar, di jalan di atas kebenaran, di atas keadilan, dan sesungguhnya hanya untuk kebaikan seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Presiden.