Busana Lebaran

Fenomena Berburu Busana Lebaran di Bandung Makin Ramai Meski Ramadhan Belum Tiba

Fenomena Berburu Busana Lebaran di Bandung Makin Ramai Meski Ramadhan Belum Tiba
Fenomena Berburu Busana Lebaran di Bandung Makin Ramai Meski Ramadhan Belum Tiba

JAKARTA - Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, suasana pusat perbelanjaan dan lokasi bazar musiman mulai dipadati masyarakat. Tradisi mempersiapkan kebutuhan ibadah dan busana hari raya ternyata sudah dimulai jauh sebelum kalender memasuki bulan puasa.

Aktivitas ini menunjukkan bahwa persiapan Lebaran bukan lagi dilakukan mendekati hari H, melainkan menjadi agenda yang direncanakan sejak awal. Banyak warga memanfaatkan momen diskon besar untuk mendapatkan produk dengan harga lebih terjangkau.

Menjelang Ramadhan, warga Bandung mulai berburu perlengkapan Lebaran dan puasa. Salah satunya pakaian muslim dan hijab yang menjadi kebutuhan utama saat memasuki bulan ibadah.

Salah satu yang dipadati pengunjung adalah Big Warehouse Sale di Saparua, Kota Bandung. Setidaknya ada seribuan orang yang memadati event dengan diskon besar ini per hari.

Bahkan ada pengunjung yang datang sebelum acara dibuka. Antusiasme tersebut terlihat dari antrean panjang sejak pagi hari demi mendapatkan produk incaran.

“Ada hijab, abaya, pakaian muslim lainnya, hingga perlengkapan ibadah menjelang Ramadhan,” ujar Sales Marketing Manager Lozy Hijab, Nia, Senin, 16 Februari 2026. Pernyataan itu menggambarkan ragam produk yang memang disiapkan khusus menyambut momentum religi tahunan.

Lonjakan Pengunjung dan Strategi Penjualan Keliling Kota

Nia mengungkapkan, acara ini digelar bergantian di beberapa kota. Bandung menjadi target utama karena peminatnya yang banyak.

Kota Bandung dinilai memiliki pasar fesyen muslim yang sangat besar. Karakter konsumennya yang mengikuti tren membuat penjualan produk selalu tinggi setiap diadakan bazar.

“Sehari bisa sampai seribu lebih pengunjung. Produk yang kita bawa juga banyak, sekitar 20 ribu pieces dengan lebih dari seratus varian produk,” jelas Nia.

Jumlah produk yang dibawa menunjukkan keseriusan penyelenggara dalam memenuhi lonjakan permintaan. Variasi yang banyak memberi pilihan luas bagi konsumen dari berbagai usia dan selera.

Produk yang ditawarkan mencakup hijab, abaya, prayer set, hingga koleksi sarimbit keluarga. Semua kategori tersebut merupakan item yang identik dengan kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri.

Momentum menjelang Ramadhan menjadi alasan utama digelarnya acara diskon besar tersebut. Penyelenggara melihat periode ini sebagai waktu paling efektif untuk meningkatkan penjualan.

“Menjelang Ramadhan demand busana muslim, terutama prayer set dan koleksi raya, memang meningkat. Penjualan saat puasa bisa naik sampai 100 persen dibanding hari biasa,” katanya.

Kenaikan hingga dua kali lipat menjadi indikator kuat bahwa sektor fesyen muslim memiliki siklus musiman yang jelas. Pelaku usaha pun menyesuaikan strategi produksi dan distribusi mengikuti pola tersebut.

Produk Viral Jadi Buruan Utama Pembeli

Beberapa koleksi menjadi incaran utama pembeli. Seri hijab Arabian dan Norshol hampir selalu sold out.

“Kalau dari hijab, Arabian sama Norshol itu pasti paling cepat habis. Dari tahun lalu sudah viral di media sosial, jadi setiap ada event langsung dicari,” kata Nia.

Popularitas di media sosial terbukti mampu mendorong keputusan belanja secara langsung. Konsumen datang dengan daftar produk yang sudah mereka incar sebelumnya.

Produk tersebut juga ditawarkan dengan harga jauh lebih murah dibanding penjualan online. Perbedaan harga inilah yang membuat banyak orang rela datang lebih awal.

“Kalau online biasanya Rp100 ribu dapat satu, di sini Rp100 ribu bisa dapat tiga,” tambahnya.

Skema harga tersebut memberikan daya tarik besar bagi pembeli dalam jumlah banyak, termasuk reseller. Banyak pengunjung memanfaatkan kesempatan untuk membeli sekaligus sebagai stok usaha kecil.

Selain hijab, abaya Aisyah yang populer karena dikenakan figur publik seperti Aurel Hermansyah juga menjadi salah satu produk best seller. Efek figur publik membuat produk tersebut semakin dikenal luas.

“Abaya Aisyah itu dari tahun lalu sampai sekarang masih jadi favorit. Bahannya adem dan modelnya banyak dicari,” jelasnya.

Kenyamanan bahan menjadi faktor penting selain tampilan desain. Konsumen kini tidak hanya mempertimbangkan gaya, tetapi juga fungsi pakaian untuk aktivitas ibadah.

Tren Warna dan Model Lebaran 2026 Mulai Terlihat

Untuk tren Lebaran tahun ini, Lozy Hijab menyoroti warna pastel dan nuansa yellow cream yang diprediksi akan mendominasi. Pilihan warna ini dianggap memberi kesan lembut dan elegan saat dikenakan.

“Tahun ini warna-warna yellow cream, ivory, dan pastel yang lebih soft lagi naik. Tahun kemarin banyak warna gelap seperti burgundy atau smoke grey, sekarang lebih cerah,” ujar Nia.

Perubahan tren warna menunjukkan adanya pergeseran selera menuju tampilan yang lebih ringan. Nuansa cerah dinilai lebih sesuai dengan suasana hangat perayaan Idul Fitri.

Dari sisi model, koleksi sarimbit keluarga dengan detail bordir (embroidery) juga sedang populer. Konsep busana seragam keluarga kembali diminati karena memperkuat kesan kebersamaan.

Desain bordir memberi sentuhan klasik namun tetap modern. Kombinasi tersebut membuat produk terlihat formal sekaligus tetap nyaman digunakan.

Munculnya Peluang Usaha Jasa Titip dari Fenomena Belanja

Tingginya minat belanja juga melahirkan peluang bisnis jasa titip atau jastip. Dua jastiper, Marda (25) dan Ainun (20), mengaku datang sejak pukul tujuh pagi demi mendapatkan produk terbaik untuk pelanggan mereka.

“Antusias banget, dari pagi sudah ramai. Banyak yang nitip kerudung sama abaya karena harganya jauh lebih murah,” kata Marda.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bazar tidak hanya dimanfaatkan pembeli langsung, tetapi juga pelaku usaha perantara. Jastip menjadi solusi bagi konsumen luar kota yang tidak bisa hadir langsung.

Ainun menambahkan, klien mereka tidak hanya berasal dari Bandung tetapi juga luar kota. Media sosial menjadi sarana utama untuk menawarkan jasa mereka.

“Ada dari luar Bandung juga. Kita posting di Instagram kalau ada event, biasanya langsung banyak yang titip,” ujarnya.

Model bisnis ini berkembang karena adanya kombinasi kebutuhan dan kemudahan digital. Informasi cepat tersebar membuat peluang usaha muncul secara spontan.

Selama setahun menjadi jastiper, keduanya menghadapi tantangan seperti pembeli yang terlambat transfer atau pembatalan pesanan. Risiko tersebut menjadi bagian dari dinamika usaha berbasis titipan.

Namun tingginya permintaan membuat mereka tetap optimis. Produk yang batal dibeli biasanya masih bisa dijual kembali kepada pelanggan lain.

“Kadang ada yang cancel atau telat bayar, tapi produknya biasanya bisa dijual lagi. Jadi tetap menarik dijalani,” kata Ainun.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa geliat ekonomi menjelang Ramadhan tidak hanya dirasakan oleh produsen besar. Peluang juga terbuka bagi pelaku usaha kecil yang jeli melihat momentum.

Ramainya bazar busana muslim sebelum Ramadhan menjadi gambaran bagaimana tradisi, tren, dan peluang ekonomi saling berkaitan. Persiapan menyambut hari raya akhirnya bukan hanya soal kebutuhan pribadi, tetapi juga menggerakkan aktivitas perdagangan di berbagai lapisan.

Dengan meningkatnya antusiasme masyarakat dari tahun ke tahun, kegiatan seperti ini diperkirakan akan terus berkembang. Bazar musiman menjelang Ramadhan kini telah menjadi bagian dari kalender belanja tahunan yang dinanti banyak orang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index