BMKG

Laporan BMKG: Hilal Belum Teramati Di Sejumlah Titik, Pengamatan Dilanjutkan Esok Hari

Laporan BMKG: Hilal Belum Teramati Di Sejumlah Titik, Pengamatan Dilanjutkan Esok Hari
Laporan BMKG: Hilal Belum Teramati Di Sejumlah Titik, Pengamatan Dilanjutkan Esok Hari

JAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah titik strategis, termasuk di wilayah Nabire dan sekitarnya, posisi hilal (bulan sabit muda) belum berhasil teramati pada hari ini.

Kondisi ini dipengaruhi oleh posisi hilal yang masih berada di bawah kriteria minimum visibilitas serta faktor cuaca di beberapa lokasi pengamatan. Sesuai dengan prosedur ilmiah dan koordinasi bersama Kementerian Agama, tim pengamat BMKG akan melanjutkan proses rukyatul hilal pada esok hari guna memastikan penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah yang akurat.

Ketiadaan kenampakan hilal pada hari pertama pengamatan merupakan hal yang lumrah dalam metode rukyat, terutama jika tinggi hilal secara astronomis memang masih sangat rendah. BMKG menggunakan peralatan optik canggih dan sistem komputerisasi untuk melakukan pelacakan posisi bulan secara presisi, namun keputusan akhir tetap bergantung pada visibilitas fisik di lapangan.

Analisis Astronomis Dan Kriteria Visibilitas Hilal

Secara teknis, BMKG menjelaskan bahwa penentuan awal bulan kamariah mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria ini menetapkan bahwa hilal dapat dianggap tampak jika memenuhi parameter minimum sebagai berikut:

Tinggi Hilal: Minimal 3 derajat di atas cakrawala.

Sudut Elongasi: Minimal 6,4 derajat.

Berdasarkan data hisab (perhitungan astronomis) untuk hari ini, posisi bulan di sebagian besar wilayah Indonesia memang masih berada di bawah ambang batas tersebut. Kondisi atmosfer, seperti ketebalan awan dan tingkat polusi cahaya di lokasi pengamatan, juga menjadi variabel yang sangat menentukan apakah cahaya tipis hilal dapat ditangkap oleh teleskop maupun mata telanjang.

Proses Pengamatan Lanjutan Dan Penentuan Sidang Isbat

Dengan belum teramatinya hilal hari ini, pengamatan pada esok hari menjadi sangat krusial. Jika esok hari hilal berhasil terlihat dan memenuhi kriteria, maka bulan Syaban akan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari, atau awal Ramadan akan jatuh pada lusa. Hasil dari seluruh titik pemantauan BMKG di seluruh Indonesia akan segera dilaporkan kepada Kementerian Agama sebagai bahan pertimbangan utama dalam Sidang Isbat.

Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan menunggu pengumuman resmi dari pemerintah. Sidang Isbat merupakan forum pengambilan keputusan yang menggabungkan metode Hisab (perhitungan matematis) dan Rukyat (pengamatan fisik) untuk memberikan kepastian hukum bagi umat Islam dalam memulai ibadah puasa.

Imbauan BMKG Terkait Kondisi Cuaca Saat Pengamatan

Selain faktor astronomis, BMKG juga menyoroti kondisi cuaca ekstrem di beberapa wilayah yang dapat menghalangi pandangan ke ufuk barat.

Di beberapa titik pengamatan, tutupan awan yang tebal terpantau menjadi kendala utama. BMKG terus memperbarui data prakiraan cuaca di lokasi-lokasi pemantauan agar tim di lapangan dapat mengantisipasi waktu terbaik untuk melakukan pengamatan pada esok hari.

Integrasi teknologi navigasi bintang dan kamera sensitivitas tinggi terus dioptimalkan agar data yang disajikan dalam Sidang Isbat memiliki tingkat validitas yang tinggi. Keputusan yang diambil nantinya diharapkan dapat menyatukan langkah umat dalam memulai bulan suci dengan penuh kekhusyukan dan kebersamaan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index