JAKARTA - Pergerakan harga batu bara global akhirnya mengalami koreksi setelah mencatat kenaikan tajam selama beberapa hari sebelumnya. Perubahan arah ini langsung menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah dinamika konsumsi energi yang masih tinggi di berbagai negara.
Pada perdagangan Kamis, 19 Februari 2026, harga batu bara ditutup di level US$121,55 atau turun 0,49%. Pelemahan ini sekaligus menghentikan tren penguatan yang sebelumnya mencapai kenaikan kumulatif sekitar 5,1% dalam lima hari beruntun.
Walaupun terkoreksi, posisi harga masih tergolong tinggi dibandingkan pola historis dalam setahun terakhir. Level tersebut bahkan masih menjadi salah satu yang tertinggi sejak akhir Januari 2025.
Tekanan Permintaan dari India Mengubah Arah Pasar Komoditas
Faktor utama yang menahan laju harga datang dari perkembangan konsumsi energi di India. Negara tersebut justru mencatat penurunan serapan batu bara sektor pembangkit listrik secara tahunan pada Januari 2026.
Penurunan ini terjadi di tengah kondisi cuaca ekstrem berupa gelombang dingin yang meningkatkan kebutuhan listrik secara signifikan. Situasi tersebut menunjukkan bahwa lonjakan konsumsi listrik tidak selalu sejalan dengan peningkatan penggunaan batu bara.
Permintaan listrik bahkan tercatat sebagai yang tertinggi untuk periode Januari setidaknya sejak tahun 2010. Fenomena ini menggambarkan adanya perubahan struktur pasokan energi yang mulai bergeser ke sumber lain.
Data resmi menunjukkan penyerapan batu bara oleh sektor listrik turun hampir 3% secara tahunan menjadi 73,16 juta ton. Selama periode April hingga Januari tahun fiskal 2026, serapan tercatat melemah 3,72% menjadi 661,69 juta ton.
Secara keseluruhan, total konsumsi batu bara lintas sektor industri juga turun sekitar 1,4% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 92,18 juta ton pada Januari 2026. Pelemahan ini terutama disebabkan oleh menurunnya kebutuhan dari pembangkit listrik tenaga termal.
Porsi sektor listrik terhadap total konsumsi batu bara nasional berada di angka 79% pada Januari 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan 82% pada Januari 2025.
Kontribusi batu bara dalam bauran pembangkitan listrik nasional juga mengalami penyesuaian menjadi 74% dari sebelumnya 76%. Pada Desember tahun sebelumnya, porsinya juga berada di level yang sama sehingga memperlihatkan tren stagnasi.
Seorang pejabat menyatakan bahwa peningkatan produksi listrik dari energi terbarukan, hidro, dan nuklir turut mengurangi ketergantungan terhadap batu bara. Ketersediaan stok batu bara yang cukup di pembangkit juga membuat kebutuhan pasokan tambahan menjadi lebih kecil.
Perubahan Bauran Energi Jadi Sinyal Transformasi Jangka Panjang
Lembaga riset Crisil Intelligence mencatat permintaan listrik meningkat 4,5% secara tahunan menjadi sekitar 143 miliar unit pada Januari lalu. Angka ini menjadi konsumsi Januari tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Lonjakan kebutuhan listrik dipicu cuaca dingin ekstrem di wilayah utara dan timur India yang meningkatkan penggunaan pemanas. Selain itu, aktivitas manufaktur masih menunjukkan ekspansi meskipun pertumbuhannya melambat.
Permintaan listrik puncak pada Januari bahkan mencapai 245 gigawatt dan melampaui rekor musim panas sebelumnya sebesar 243 gigawatt. Lonjakan tersebut terjadi saat puncak gelombang dingin pada 9 Januari 2026 pukul 09.52 waktu setempat.
Produksi listrik ikut meningkat sekitar 6% secara tahunan menjadi 156 miliar unit pada Januari. Kenaikan ini mencerminkan upaya seluruh sumber energi untuk memenuhi permintaan yang melonjak.
Pembangkitan listrik berbasis energi terbarukan naik sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan kapasitas baru sejak April 2025 menjadi pendorong utama tren tersebut.
Sementara itu, pembangkitan listrik berbasis batu bara tetap meningkat sekitar 5% secara tahunan meskipun pangsanya menurun. Artinya batu bara masih berperan penting, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya penopang.
Produksi listrik dari tenaga air dan nuklir masing-masing tumbuh sekitar 11,8% dan 5,3%. Pertumbuhan ini memperlihatkan diversifikasi energi berjalan semakin nyata.
Stok Melimpah dan Efisiensi Pasokan Menahan Kenaikan Harga
Persediaan batu bara di pembangkit listrik tenaga termal tercatat sekitar 53,24 juta ton pada 1 Januari 2026. Jumlah itu meningkat menjadi 56,07 juta ton pada 31 Januari 2026, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2025.
Ketersediaan tersebut setara dengan 18 hari operasi pembangkit selama Januari 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 17 hari operasi pada Desember 2025.
Melimpahnya stok membuat pembangkit tidak terburu-buru melakukan pembelian tambahan di pasar spot. Kondisi ini otomatis menekan dorongan harga yang sebelumnya sempat menguat.
Dinamika China Turut Membentuk Sentimen Pasar Asia
Perkembangan lain datang dari China yang juga mengalami perubahan pada sisi logistik batu bara. Persediaan di pelabuhan utama wilayah utara kembali menurun pada pekan yang berakhir 13 Februari 2026.
Stok batu bara di pelabuhan Qinhuangdao tercatat turun menjadi 5,45 juta ton atau lebih rendah 3,2% dibandingkan pekan sebelumnya. Penurunan terjadi karena volume pengiriman keluar lebih besar daripada suplai yang masuk melalui jalur kereta.
Beberapa tambang mengurangi bahkan menghentikan produksi menjelang libur Imlek. Tambang milik negara juga menjalani jadwal pemeliharaan rutin yang membatasi pasokan sementara.
Meskipun stok pelabuhan turun, banyak pembangkit listrik telah mengamankan kontrak jangka panjang sehingga tidak terdorong membeli tambahan. Aktivitas industri yang melambat selama liburan turut membuat permintaan pasar spot menjadi lesu.
Kebijakan Energi Amerika Serikat Sempat Mengerek Harga Global
Sebelum koreksi terjadi, harga batu bara sempat melonjak selama lima hari akibat kebijakan di Amerika Serikat. Pemerintahan Presiden Donald Trump meningkatkan upaya menghidupkan kembali industri batu bara domestik.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada sumber eksternal. Kebijakan itu sempat memicu optimisme pasar sehingga harga terdorong naik dalam waktu singkat.
Departemen Energi Amerika Serikat mengumumkan penyediaan pendanaan sebesar US$175 juta untuk proyek modernisasi pembangkit listrik tenaga batu bara. Dana tersebut dialokasikan untuk retrofit, peningkatan teknologi, serta perpanjangan umur operasional enam pembangkit.
Program ini difokuskan pada pembangkit yang melayani komunitas pedesaan dan wilayah terpencil. Tujuannya mempertahankan sumber energi yang andal tetap beroperasi sekaligus menjaga stabilitas jaringan listrik nasional.
Lembaga tersebut menegaskan bahwa kebijakan ini juga diarahkan untuk menjaga biaya listrik tetap rendah bagi rumah tangga dan pelaku usaha. Upaya itu menunjukkan bahwa batu bara masih dipandang memiliki peran strategis dalam transisi energi.
Pasar Kini Bergerak Lebih Hati-Hati Menimbang Masa Depan Energi
Kombinasi faktor dari India, China, dan Amerika Serikat menciptakan tarik-menarik sentimen di pasar batu bara global. Investor kini melihat bahwa kenaikan harga tidak lagi hanya ditentukan oleh permintaan listrik, tetapi juga oleh perubahan struktur energi.
Diversifikasi sumber pembangkitan membuat batu bara menghadapi tantangan baru meskipun masih dibutuhkan dalam skala besar. Pasar mulai menilai keseimbangan baru antara energi konvensional dan energi alternatif.
Koreksi harga setelah reli panjang menjadi cerminan bahwa pasar sedang mencari titik stabil baru. Perubahan pola konsumsi, stok yang melimpah, serta kebijakan energi nasional berbagai negara akan terus memengaruhi arah harga ke depan.
Dalam jangka pendek, volatilitas masih akan terjadi seiring perbedaan kebijakan dan kondisi cuaca di berbagai kawasan. Namun dalam jangka panjang, transformasi sistem energi global menjadi faktor utama yang membentuk ulang permintaan batu bara dunia.