JAKARTA - Harga minyak dunia mengalami penurunan seiring pasar menimbang kemungkinan tercapainya kesepakatan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Negosiasi lanjutan dijadwalkan berlangsung pekan ini, di tengah pengerahan pasukan AS ke kawasan Timur Tengah.
Fluktuasi Harga Brent dan WTI
Minyak mentah jenis Brent tercatat turun menuju US$71 per barel setelah penutupan hampir stabil pada Jumat lalu. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melemah pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026.
Kenaikan harga sebelumnya didorong oleh kekhawatiran risiko konflik terbuka antara AS dan Iran. Hal ini memicu lonjakan aktivitas pasar berjangka dan opsi untuk melindungi diri dari risiko eskalasi.
Peluang Diplomasi dan Pertemuan Mendatang
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan ada peluang besar untuk mencapai kesepakatan diplomatik yang saling menguntungkan. Ia mengonfirmasi rencana pertemuan dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, di Jenewa untuk membahas masalah ini.
Pernyataan ini memberikan harapan baru bagi pasar yang sebelumnya waspada terhadap potensi gangguan pasokan. Investor kini menilai kemungkinan stabilisasi harga jika negosiasi berjalan mulus.
Risiko Gangguan Pasokan di Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi titik perhatian utama karena setiap hari dilalui kapal tanker yang mengangkut minyak dan gas alam cair global. Iran hanya perlu mengganggu aliran lalu lintas di jalur ini untuk memberikan dampak signifikan pada harga minyak dunia.
Negara produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait mengirimkan mayoritas minyaknya melalui Hormuz. Hampir seluruh ekspor Iran, lebih dari 3 juta barel per hari, sebagian besar ditujukan ke pasar Asia, terutama China.
Sentimen Pasar dan Struktur Backwardation
Meski kekhawatiran ketegangan meningkat, spread kontrak Brent dua bulan pertama justru menyempit. Struktur backwardation ini menunjukkan sentimen bullish dan harapan pasar terhadap gangguan pasokan yang bisa terjadi.
Investor memantau inventaris diesel dan disiplin OPEC sebagai indikator ketatnya pasar produk. Pergerakan kurva harga menuju backwardation yang lebih kuat menandakan gangguan pasokan minyak secara nyata.
Harga Terbaru dan Pergerakan Pasar
Brent untuk pengiriman April turun 0,9% menjadi US$71,11 per barel pada pukul 08.36 waktu Singapura. Sedangkan WTI untuk pengiriman April melemah 0,9% menjadi US$65,85 per barel.
Pergerakan harga ini mencerminkan ketidakpastian pasar di tengah spekulasi geopolitik dan negosiasi diplomatik yang masih berlangsung. Pasar global akan terus memantau perkembangan negosiasi nuklir untuk menentukan tren harga minyak ke depan.