JAKARTA - Memasuki bulan suci Ramadan 2026, fenomena menarik terlihat di kalangan generasi muda yang tetap aktif bergerak meski tengah menjalankan ibadah puasa. Alih-alih menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan atau sekadar tidur sepanjang hari, banyak anak muda kini justru memilih untuk tetap rutin berolahraga.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan; menjaga kebugaran tubuh dipandang sebagai kunci utama agar fisik tidak merasa lemas atau "loyo" saat menjalani rutinitas harian di tengah kewajiban menahan lapar dan dahaga.
Tren ini menunjukkan adanya pergeseran kesadaran kesehatan di mana puasa tidak lagi dijadikan alasan untuk menghentikan aktivitas fisik. Sebaliknya, olahraga ringan hingga sedang justru dianggap sebagai pendongkrak energi yang efektif untuk menjaga produktivitas selama bulan puasa.
Antusiasme Generasi Muda Dalam Menjaga Kebugaran Di Tengah Ibadah Puasa
Semangat untuk tetap aktif terpantau di berbagai tempat terbuka dan fasilitas olahraga. Banyak anak muda yang mengaku bahwa dengan tetap bergerak, metabolisme tubuh terasa lebih lancar dan rasa kantuk yang sering menyerang saat siang hari bisa diminimalisir. Aktivitas fisik ini menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang tetap dipertahankan meski sedang berpuasa, guna memastikan tubuh tetap prima hingga waktu berbuka tiba.
"Olahraga itu penting supaya badan nggak kaku dan tetap segar. Kalau cuma diam saja malah kerasa lebih capek dan lemas," ujar salah satu pemuda yang rutin beraktivitas fisik di sore hari. Antusiasme ini membuktikan bahwa dengan pengaturan yang tepat, puasa dan olahraga dapat berjalan beriringan tanpa saling mengganggu.
Pilihan Waktu Ngabuburit Produktif Dengan Olahraga Ringan Sebelum Berbuka
Bagi sebagian besar anak muda, waktu menjelang berbuka puasa atau yang akrab disebut "ngabuburit" menjadi momen paling favorit untuk berolahraga. Melakukan aktivitas fisik sekitar 30 hingga 60 menit sebelum waktu maghrib dinilai sangat efisien. Selain untuk mengisi waktu menunggu berbuka, pilihan waktu ini memberikan keuntungan bagi tubuh karena sisa energi yang dikeluarkan bisa segera diganti dengan asupan nutrisi saat berbuka.
Jenis olahraga yang dipilih pun beragam namun tetap dalam koridor intensitas yang aman. Olahraga ringan seperti jalan santai, jogging dengan kecepatan rendah, hingga bersepeda mengelilingi area taman menjadi aktivitas yang paling banyak diminati. Hal ini dilakukan agar tubuh tetap berkeringat namun tidak sampai mengalami dehidrasi berat yang berisiko bagi kesehatan.
Manfaat Psikologis Dan Fisik Tetap Aktif Bergerak Selama Bulan Ramadan
Olahraga saat puasa ternyata tidak hanya memberikan dampak positif bagi fisik, tetapi juga secara psikologis. Aktivitas fisik diketahui dapat melepaskan hormon endorfin yang memicu perasaan bahagia dan mengurangi tingkat stres. Hal ini sangat membantu para pemuda untuk tetap berpikiran positif dan bersemangat dalam menjalankan ibadah maupun pekerjaan sehari-hari selama bulan Ramadan.
Secara fisik, rutin bergerak membantu menjaga massa otot dan membakar cadangan lemak lebih efektif. Dengan tubuh yang bugar, risiko penyakit yang timbul akibat pola makan yang tidak teratur saat berbuka—seperti lonjakan kolesterol atau gula darah—dapat lebih ditekan. Anak muda menyadari bahwa investasi kesehatan melalui olahraga di bulan puasa akan membuahkan hasil berupa tubuh yang lebih sehat saat merayakan Idulfitri nanti.
Tips Aman Berolahraga Bagi Pemuda Agar Puasa Tetap Berjalan Lancar
Meskipun semangat sedang tinggi, para ahli kesehatan tetap memberikan imbauan agar para pemuda tidak berlebihan dalam berolahraga. Mengenali batasan diri sangatlah penting; jika tubuh sudah merasa sangat pusing atau lemas yang tidak biasa, sebaiknya intensitas segera dikurangi atau dihentikan. Memaksa diri melakukan olahraga berat saat tingkat cairan tubuh sedang rendah dapat berakibat fatal pada fungsi organ tubuh.
Selain itu, kecukupan nutrisi saat sahur dan berbuka memegang peranan vital sebagai bahan bakar olahraga. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan memperbanyak minum air putih di malam hari adalah persiapan wajib bagi mereka yang ingin tetap aktif.
Dengan kombinasi tekad yang kuat dan cara yang tepat, anak muda membuktikan bahwa Ramadan adalah momen yang tepat untuk semakin sehat, bukan saatnya untuk menyerah pada rasa lemas.