JAKARTA - Sektor logistik nasional diprediksi akan mengalami akselerasi pertumbuhan yang signifikan hingga menyentuh angka 8% pada tahun 2026.
Proyeksi optimis ini didorong oleh implementasi dua program strategis pemerintah, yakni Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih.
Sinergi kedua program ini diyakini akan menciptakan ekosistem distribusi baru yang menjangkau hingga ke pelosok desa, memicu peningkatan volume pengiriman barang, serta menuntut kesiapan infrastruktur rantai pasok yang lebih masif dan terintegrasi di seluruh wilayah Indonesia.
Program Makan Bergizi Gratis Sebagai Katalisator Logistik Pangan
Implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi mesin baru bagi industri logistik, khususnya pada subsektor logistik pangan dan rantai dingin (cold chain). Kebutuhan untuk mendistribusikan bahan baku pangan berkualitas secara rutin ke ribuan titik sekolah dan pusat komunitas menuntut efisiensi distribusi yang sangat tinggi.
Perusahaan logistik kini berlomba-lomba memperkuat armada dan teknologi pelacakan guna memastikan bahan pangan tetap segar hingga ke tangan konsumen akhir.
Volume pengiriman bahan pangan seperti daging, telur, sayuran, dan susu diperkirakan akan melonjak drastis. Hal ini tidak hanya menguntungkan penyedia jasa transportasi besar, tetapi juga membuka peluang bagi penyedia gudang pendingin lokal di berbagai daerah.
Para pelaku industri melihat momentum ini sebagai peluang emas untuk melakukan investasi pada armada ramah lingkungan dan sistem manajemen pergudangan yang lebih modern guna menekan biaya operasional sekaligus mendukung target ketahanan pangan nasional.
Peran Kopdes Merah Putih Dalam Memperpendek Rantai Pasok Desa
Selain MBG, kehadiran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih berperan penting dalam mereformasi struktur logistik dari tingkat akar rumput. Kopdes bertindak sebagai agregator produk-produk lokal desa untuk disalurkan ke pasar yang lebih luas atau sebagai penyedia kebutuhan pokok bagi warga desa.
Dengan adanya penguatan kelembagaan koperasi ini, rantai pasok yang dulunya panjang dan berbelit kini dapat diperpendek, sehingga margin keuntungan bagi petani dan produsen lokal menjadi lebih besar.
Layanan logistik "mil terakhir" (last-mile delivery) menjadi fokus utama dalam ekosistem Kopdes. Integrasi antara Kopdes dengan platform logistik digital memungkinkan produk desa bergerak lebih cepat menuju pusat-pusat distribusi kota.
Transformasi ini secara otomatis meningkatkan aktivitas ekonomi di pedesaan, yang pada gilirannya mendorong permintaan akan jasa pengiriman barang konsumsi kembali ke desa, menciptakan arus logistik dua arah yang seimbang dan berkelanjutan.
Tantangan Dan Kesiapan Infrastruktur Digital Sektor Logistik 2026
Meskipun diprediksi tumbuh 8%, sektor logistik masih menghadapi tantangan besar terkait pemerataan infrastruktur digital dan konektivitas antarpulau. Para pelaku usaha logistik menekankan pentingnya standarisasi biaya logistik nasional agar tidak terjadi disparitas harga yang tajam antarwilayah.
Di tahun 2026 ini, adopsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) untuk optimasi rute dan Internet of Things (IoT) untuk pemantauan suhu muatan menjadi standar baru yang wajib dipenuhi oleh perusahaan logistik yang ingin tetap kompetitif.
Pemerintah terus berupaya mendukung pertumbuhan ini melalui perbaikan jalur transportasi darat dan optimalisasi pelabuhan pengumpan (feeder ports). Sinergi kebijakan antara kementerian terkait menjadi kunci agar beban logistik nasional dapat terus ditekan dari angka dua digit menuju level yang lebih efisien.
Kesiapan sumber daya manusia di tingkat desa untuk mengelola logistik melalui Kopdes juga menjadi perhatian serius agar pertumbuhan 8% ini dapat dirasakan manfaatnya secara inklusif oleh seluruh lapisan masyarakat.