JAKARTA - Upaya membangun kepercayaan publik melalui tata kelola yang transparan menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan besar. Di tengah tuntutan tersebut, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk atau PTPP justru menunjukkan capaian yang patut dicermati.
Konsistensi PTPP dalam menerapkan prinsip tata kelola berintegritas dan berkelanjutan akhirnya membuahkan pengakuan. BUMN konstruksi ini berhasil meraih Anugerah Indeks Integritas Bisnis Lestari atau INSTAR pada Desember 2025.
Penghargaan tersebut menegaskan posisi PTPP sebagai perusahaan yang tidak hanya fokus pada kinerja bisnis. PTPP juga dinilai mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Dalam penilaian INSTAR 2025, PTPP dievaluasi berdasarkan tiga fondasi utama Environmental, Social, and Governance atau ESG. Ketiga fondasi ini menjadi tolok ukur utama dalam menilai ketahanan dan integritas korporasi.
Hasil penilaian menunjukkan PTPP mampu tampil unggul pada tiga dimensi utama tersebut. Keunggulan ini mencerminkan keseriusan perusahaan dalam membangun praktik bisnis berkelanjutan.
Keunggulan Tata Kelola dan Bisnis Berintegritas
Pada dimensi tata kelola yang menitikberatkan pada bisnis berintegritas, PTPP memperoleh penilaian positif. Hal ini tidak terlepas dari penerapan kebijakan antikorupsi yang komprehensif.
PTPP juga mengoperasikan sistem whistleblowing yang terbuka bagi internal dan eksternal perusahaan. Sistem ini dirancang untuk mendorong pelaporan pelanggaran secara aman dan transparan.
Selain itu, integrasi sistem pengendalian seperti SAP dan e-Proc turut menjadi faktor pendukung. Langkah ini dinilai efektif dalam mencegah terjadinya praktik kecurangan atau fraud.
Kombinasi kebijakan dan sistem tersebut memperkuat struktur pengendalian internal PTPP. Perusahaan dinilai mampu menjaga akuntabilitas di seluruh lini operasional.
Keunggulan pada dimensi tata kelola ini menunjukkan bahwa integritas telah menjadi bagian dari proses bisnis PTPP. Prinsip ini tidak hanya berhenti pada kebijakan, tetapi juga diterapkan secara nyata.
Pendekatan ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan pemangku kepentingan. Dengan tata kelola yang kuat, perusahaan dinilai lebih siap menghadapi risiko jangka panjang.
Komitmen Sosial, HAM, dan Lingkungan
Pada dimensi Sosial dan Hak Asasi Manusia, PTPP juga menunjukkan kinerja yang menonjol. Perusahaan dinilai konsisten dalam menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau K3.
Implementasi K3 dilakukan melalui penyediaan pelatihan keselamatan secara rutin. Selain itu, PTPP juga mengembangkan kompetensi tenaga kerja secara berkelanjutan.
Komitmen terhadap kebijakan nondiskriminasi menjadi bagian penting dalam penilaian. PTPP dinilai menghormati dan memenuhi hak-hak tenaga kerja tanpa pengecualian.
Di sisi lingkungan, PTPP memperoleh skor tertinggi pada sejumlah indikator penting. Penilaian ini mencakup pengelolaan limbah dan emisi yang dilakukan secara sistematis.
Pemantauan kualitas lingkungan juga menjadi aspek yang mendapatkan apresiasi. PTPP dinilai patuh terhadap regulasi lingkungan yang berlaku.
Selain itu, pelaporan kinerja lingkungan dilakukan secara transparan. Langkah ini menunjukkan keterbukaan perusahaan terhadap dampak operasionalnya.
Keseluruhan capaian tersebut memperlihatkan keseimbangan antara aspek sosial dan lingkungan. PTPP dinilai tidak mengabaikan dampak non-ekonomi dari kegiatan usahanya.
Pandangan Manajemen terhadap Penghargaan INSTAR
SVP Corporate Secretary PT PP (Persero) Tbk, Joko Raharjo, menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan INSTAR 2025. Pernyataan tersebut disampaikan pada awal Januari 2026.
“PTPP menyambut baik penyelenggaraan INSTAR 2025 yang digagas Tempo bersama Transparency International Indonesia (TII) dan Institute for Strategic Initiatives (ISI),” kata Joko. Menurutnya, penilaian berbasis integritas dan keberlanjutan menjadi rujukan penting bagi dunia usaha.
Joko menilai keberhasilan PTPP meraih Anugerah INSTAR 2025 sebagai bentuk apresiasi atas komitmen perusahaan. Komitmen tersebut dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.
Menurut dia, prinsip tata kelola berintegritas dan berkelanjutan telah menjadi pedoman utama perusahaan. Prinsip ini juga mencakup perhatian terhadap keselamatan dan kesejahteraan tenaga kerja.
Selain itu, PTPP turut menjaga kepentingan masyarakat sekitar proyek. Praktik ramah lingkungan diterapkan agar perusahaan tetap tangguh dan berkelanjutan.
Joko menegaskan bahwa prinsip keberlanjutan berbasis ESG dipandang sebagai fondasi strategis. Fondasi ini menopang bisnis konstruksi dan investasi yang bertanggung jawab.
ESG tidak hanya diposisikan sebagai kewajiban kepatuhan semata. ESG juga menjadi kerangka kerja untuk memastikan pertumbuhan perusahaan sejalan dengan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan sosial.
“Melalui ESG, PTPP berupaya menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham, pemangku kepentingan, dan masyarakat luas,” kata Joko. Pernyataan ini menegaskan orientasi jangka panjang perusahaan.
Tantangan dan Langkah Strategis PTPP
Meski demikian, Joko mengakui terdapat tantangan dalam mengimplementasikan prinsip ESG. Tantangan tersebut datang dari sisi internal maupun eksternal perusahaan.
Secara internal, tantangan utama terletak pada penyatuan pemahaman ESG di seluruh unit kerja. Setiap proyek memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Perubahan budaya kerja menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian penting.
Penguatan sistem data dan pelaporan ESG turut menjadi tantangan tersendiri. Akurasi dan konsistensi data menjadi kunci keberhasilan implementasi ESG.
Dari sisi eksternal, tantangan muncul dari kesiapan ekosistem. Ketersediaan material ramah lingkungan dan teknologi hijau masih menjadi kendala.
Keselarasan pemahaman ESG di antara mitra kerja dan pemasok juga perlu ditingkatkan. Hal ini penting agar standar keberlanjutan dapat diterapkan secara menyeluruh.
Joko menjelaskan bahwa aspek lingkungan cenderung membutuhkan upaya ekstra. Implementasi Environmental memerlukan investasi awal dan pengukuran dampak yang akurat.
Di sisi lain, aspek Governance menjadi kunci agar ESG berjalan konsisten. Sementara aspek Social membutuhkan pendekatan berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan.
PTPP meyakini bahwa penerapan ESG menjadi penggerak terciptanya ekonomi hijau. Hal ini dilakukan melalui efisiensi sumber daya dan pengurangan emisi.
Inovasi teknologi konstruksi juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Perlindungan sosial dan lingkungan dijalankan secara seimbang.
Dalam konteks Indonesia, sektor konstruksi memiliki peran strategis. Sektor ini dinilai mampu menjadi motor transisi menuju ekonomi hijau yang inklusif.
Joko memastikan PTPP telah melakukan langkah konkret. Salah satunya melalui implementasi Roadmap ESG PTPP 2024–2028 secara bertahap.
Langkah lain terlihat dari penguatan green construction dan efisiensi energi. Penggunaan air dan material juga dikelola lebih bertanggung jawab.
Teknologi digital dimanfaatkan melalui dashboard ESG untuk monitoring kinerja. Peningkatan kapasitas SDM dilakukan lewat pelatihan dan peningkatan awareness ESG.
Kolaborasi dengan akademisi dan pemangku kepentingan terus diperkuat. Sinergi ini dinilai menjadi faktor kunci keberhasilan ESG.
Ke depan, PTPP menargetkan perluasan implementasi ESG ke anak perusahaan mulai tahun 2026. Penguatan kualitas data dan pelaporan juga menjadi prioritas.
Dalam jangka panjang, PTPP menargetkan menjadi benchmark penerapan ESG di sektor konstruksi Indonesia. Perusahaan ingin berkontribusi nyata terhadap ekonomi hijau dan nilai berkelanjutan.