Harga Sembako

Harga Sembako Jatim Hari Ini Elpiji Dan Minyak Naik Bawang Cabai Turun

Harga Sembako Jatim Hari Ini Elpiji Dan Minyak Naik Bawang Cabai Turun
Harga Sembako Jatim Hari Ini Elpiji Dan Minyak Naik Bawang Cabai Turun

JAKARTA - Dinamika ekonomi di wilayah Jawa Timur kembali menunjukkan pergerakan yang kontras pada awal pekan ini, Senin, 23 Februari 2026.

Berdasarkan pantauan terbaru di berbagai pasar tradisional, terjadi fenomena unik di mana beberapa komoditas mengalami lonjakan harga, sementara yang lain justru menunjukkan tren penurunan yang cukup signifikan.

Pergeseran harga ini menjadi perhatian serius bagi masyarakat, mengingat Jawa Timur merupakan salah satu lumbung pangan nasional yang stabilitas harganya sering kali menjadi barometer bagi wilayah lain.

Fluktuasi ini dipicu oleh beragam faktor, mulai dari kendala distribusi pada energi hingga melimpahnya stok hasil tani di tingkat produsen.

Tren Kenaikan Harga Elpiji Dan Minyak Goreng Di Wilayah Jawa Timur

Salah satu sorotan utama pada hari ini adalah merangkaknya harga bahan bakar rumah tangga dan minyak goreng. Komoditas gas Elpiji, khususnya ukuran nonsubsidi, mengalami penyesuaian harga di tingkat pengecer.

Kenaikan ini dirasakan cukup memberatkan bagi para pelaku usaha mikro dan rumah tangga yang bergantung pada energi gas untuk aktivitas harian. Meskipun stok di agen terpantau aman, namun biaya logistik dan distribusi disinyalir menjadi faktor penggerak naiknya angka di label harga pasar.

Pemerintah daerah terus memantau agar kenaikan ini tidak merembet ke gas subsidi yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu.

Sejalan dengan gas, harga minyak goreng juga menunjukkan tren kenaikan tipis namun konsisten. Minyak goreng curah maupun kemasan sederhana mengalami pergeseran harga yang dipengaruhi oleh dinamika pasar minyak nabati global.

Masyarakat di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, dan Sidoarjo mulai merasakan dampak dari kenaikan ini. Para pedagang di pasar tradisional mengaku harus menyesuaikan modal belanja mereka karena harga dari distributor sudah mengalami perubahan sejak akhir pekan lalu.

Kondisi ini menuntut konsumen untuk lebih bijak dalam mengatur pengeluaran rumah tangga di tengah kenaikan biaya operasional dapur.

Penurunan Harga Bawang Dan Cabai Membawa Angin Segar Bagi Konsumen

Di tengah kabar kenaikan energi dan minyak, masyarakat Jawa Timur sedikit bernapas lega dengan turunnya harga bumbu dapur utama, yakni bawang dan cabai. Harga bawang merah dan bawang putih di sejumlah pasar induk dilaporkan mengalami penurunan yang cukup drastis dibandingkan pekan sebelumnya.

Melimpahnya pasokan dari daerah sentra produksi seperti Nganjuk dan Probolinggo menjadi penyebab utama terkoreksinya harga di pasaran. Kondisi panen yang cukup baik di tingkat petani membuat distribusi barang ke pasar-pasar rakyat menjadi lebih lancar dan melimpah.

Hal serupa juga terjadi pada komoditas cabai, baik cabai merah keriting maupun cabai rawit. Setelah sempat bertengger di harga yang cukup tinggi akibat faktor cuaca beberapa waktu lalu, kini harga si "pedas" ini mulai berangsur normal.

Penurunan harga cabai ini tentu disambut baik oleh para pelaku usaha kuliner di Jawa Timur yang sangat bergantung pada bahan baku ini. Penurunan ini diharapkan dapat menyeimbangkan daya beli masyarakat yang sempat tertekan oleh kenaikan harga pada komoditas lainnya, sehingga inflasi di tingkat daerah tetap dapat terkendali dengan baik.

Faktor Distribusi Dan Panen Raya Memengaruhi Fluktuasi Harga Bahan Pangan

Terjadinya perbedaan tren harga antara komoditas pabrikan dan komoditas hasil tani ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme pasar yang berbeda. Komoditas seperti Elpiji dan minyak goreng sangat terikat pada rantai pasok industri dan regulasi harga yang lebih kompleks.

Kendala pada jalur distribusi atau perubahan biaya bahan baku industri akan langsung berdampak pada harga jual di tingkat konsumen akhir. Sementara itu, untuk bawang dan cabai, pergerakan harganya jauh lebih fleksibel karena sangat bergantung pada hukum permintaan dan penawaran harian serta kondisi alam di lahan pertanian.

Panen raya yang terjadi secara bersamaan di beberapa wilayah di Jawa Timur terbukti ampuh meredam harga bumbu dapur. Namun, di sisi lain, pemerintah juga harus waspada agar penurunan harga ini tidak sampai merugikan para petani akibat anjloknya nilai jual di bawah ongkos produksi.

Keseimbangan antara harga yang terjangkau bagi pembeli dan keuntungan yang layak bagi produsen menjadi tantangan besar bagi pemangku kebijakan di Jawa Timur. Koordinasi lintas sektoral antara Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan menjadi kunci untuk menjaga agar fluktuasi harga ini tidak menimbulkan gejolak sosial di tengah masyarakat.

Langkah Strategis Pemerintah Daerah Dalam Menjaga Stabilitas Pasokan Sembako Jatim

Menyikapi fluktuasi harga yang beragam ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan pemantauan intensif secara real-time. Upaya operasi pasar secara berkala dipersiapkan sebagai langkah antisipasi jika harga minyak goreng dan Elpiji terus melambung melampaui batas kewajaran.

Selain itu, penguatan kerja sama antar daerah di dalam provinsi diperkuat untuk memastikan distribusi pangan dari daerah surplus ke daerah defisit berjalan tanpa hambatan teknis di lapangan.

Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan panic buying terhadap komoditas yang sedang naik, karena secara keseluruhan stok kebutuhan pokok di Jawa Timur masih berada dalam level yang sangat aman. Informasi mengenai harga harian sembako yang transparan sangat membantu warga untuk menentukan prioritas belanja.

Dengan sinergi yang baik antara pengawasan pemerintah dan kesadaran masyarakat dalam berbelanja, diharapkan stabilitas ekonomi di Jawa Timur tetap terjaga, meskipun dinamika harga global dan lokal terus berubah setiap harinya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index