JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia pada November 2025 mencapai US$19,86 miliar, meningkat tipis 0,46% year-on-year (yoy) dibanding November 2024 yang sebesar US$19,77 miliar.
Pertumbuhan ini lebih rendah dibanding proyeksi konsensus pasar yang memperkirakan lonjakan 3,81% yoy.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kenaikan tipis tersebut dipengaruhi oleh pergerakan nilai impor di sektor migas dan nonmigas.
“Peningkatan nilai impor didorong oleh peningkatan nilai impor migas dengan andil 1,46%,” kata Pudji.
Data ini menunjukkan bahwa meski nilai impor meningkat, laju pertumbuhannya relatif melambat, mencerminkan stabilisasi permintaan domestik dan penyesuaian kebutuhan industri terhadap barang impor.
Pergerakan Impor Migas dan Nonmigas
Secara rinci, nilai impor migas pada November 2025 tercatat US$2,86 miliar, naik 11,19% dibanding periode sama tahun lalu. Kenaikan ini menandakan adanya kebutuhan energi yang meningkat, terutama untuk mendukung industri dan konsumsi dalam negeri.
Di sisi lain, nilai impor nonmigas justru menurun 1,15% menjadi US$17 miliar, yang sebagian besar disebabkan oleh turunnya permintaan terhadap barang konsumsi dan bahan baku penolong.
Berdasarkan penggunaannya, impor barang konsumsi turun 1,76%, sementara bahan baku penolong menyusut 3,56%. Namun, impor barang modal melonjak 17,27% dengan andil 3,18%, menunjukkan adanya investasi peralatan dan mesin industri yang meningkat untuk mendukung produksi domestik.
Tren Tekanan Impor dan Permintaan Domestik
Pergerakan nilai impor pada November 2025 menunjukkan tekanan impor mulai mereda, seiring dengan membaiknya permintaan domestik dan kebutuhan bahan baku industri. Konsensus pasar sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan impor median 3,81% yoy, lebih tinggi dibanding Oktober yang tercatat -1,15% yoy.
Kondisi ini menandakan bahwa sektor industri mulai menyesuaikan stok bahan baku dan perlahan meningkatkan kegiatan produksi. Peningkatan impor barang modal juga mengindikasikan investasi berkelanjutan pada mesin dan peralatan industri, yang menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan jangka menengah.
Implikasi bagi Neraca Perdagangan
Meski impor mulai pulih, perbedaan arah pergerakan antara ekspor dan impor tetap perlu diperhatikan. Jika impor meningkat, tetapi ekspor masih mengalami kontraksi, surplus neraca perdagangan berisiko menyempit secara signifikan. Padahal, surplus ini menjadi penyangga volatilitas nilai tukar rupiah.
Untuk November 2025, konsensus pasar memperkirakan median surplus neraca perdagangan mencapai US$3,06 miliar, lebih tinggi dibanding Oktober yang sebesar US$2,39 miliar. Data ini memberikan indikasi bahwa Indonesia masih mampu menjaga keseimbangan perdagangan, meski pertumbuhan impor mulai meningkat.
Prospek Ekonomi dan Stabilitas Pasar
Kinerja impor pada November 2025 mencerminkan kondisi ekonomi yang stabil dengan tekanan inflasi terjaga. Peningkatan impor migas menunjukkan kebutuhan energi yang meningkat, sementara penurunan impor barang konsumsi menandakan efisiensi dan penyesuaian belanja domestik.
Sementara itu, lonjakan impor barang modal menandakan keyakinan pelaku usaha terhadap prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah, karena investasi pada peralatan dan mesin menjadi dasar produksi yang lebih produktif.
Deputi BPS menekankan pentingnya memantau pergerakan impor dan ekspor secara simultan, karena hal ini akan menentukan kemampuan Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dengan tren ini, pemerintah dan pelaku industri dapat menyesuaikan kebijakan serta strategi logistik, impor bahan baku, dan investasi modal agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.