JAKARTA - Lonjakan skala Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu agenda besar pemerintah pada 2026.
Seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat, kebutuhan anggaran pun ikut meningkat signifikan. Badan Gizi Nasional atau BGN memastikan kesiapan pembiayaan program ini dengan perencanaan yang terukur, sekaligus menegaskan dampak ekonomi luas yang dihasilkan dari implementasi MBG di berbagai daerah.
Program MBG tidak hanya diposisikan sebagai intervensi gizi, tetapi juga sebagai penggerak rantai pasok pangan nasional. Dengan kebutuhan bahan baku yang masif dan berkelanjutan, kebijakan ini dinilai mampu mendorong sektor pertanian, peternakan, hingga distribusi pangan dalam negeri secara simultan.
Kenaikan Anggaran Seiring Bertambahnya Penerima
Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan bahwa anggaran program makan bergizi gratis akan terus meningkat sepanjang 2026. Pada Januari 2026, anggaran MBG tercatat mencapai Rp855 miliar per hari. Angka tersebut diproyeksikan naik signifikan menjadi Rp1,2 triliun per hari pada Mei 2026.
“Sampai kemudian naik nanti di Mei akan ada Rp1,2 triliun per hari, karena jumlah penerima manfaatnya terus naik,” kata Dadan dalam konferensi pers Capaian 1 Tahun MBG dan Operasional Perdana MBG di Tahun 2026, dikutip dari YouTube Badan Gizi Nasional Republik Indonesia pada Jumat, 9 Januari 2026. Kenaikan ini mencerminkan perluasan cakupan program secara nasional.
Dominasi Belanja Bahan Baku Dalam Negeri
Dadan menjelaskan bahwa sekitar 70 persen dari total anggaran MBG digunakan untuk pembelian bahan baku pangan. Dari porsi tersebut, sekitar 95 hingga 99 persen bahan baku berasal dari produk pertanian dalam negeri. Kebijakan ini sengaja dirancang untuk memastikan dana negara berputar di sektor domestik.
Pendekatan tersebut menempatkan MBG bukan sekadar program sosial, tetapi juga instrumen ekonomi. Dengan belanja bahan baku yang besar dan rutin, program ini memberi kepastian permintaan bagi petani, peternak, serta pelaku usaha pangan lokal di berbagai wilayah Indonesia.
Cakupan Penerima Manfaat yang Terus Meluas
Hingga saat ini, BGN mencatat jumlah penerima manfaat MBG telah mencapai 55,1 juta orang. Angka tersebut menunjukkan skala program yang sangat besar dan terus berkembang. Pertumbuhan jumlah penerima inilah yang menjadi salah satu faktor utama peningkatan anggaran harian MBG.
Dengan jumlah penerima yang terus bertambah, kebutuhan operasional di lapangan ikut meningkat. Setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG harus mampu menjaga pasokan bahan baku agar distribusi makanan bergizi tetap berjalan lancar dan tepat waktu.
Kebutuhan Logistik di Tingkat Dapur SPPG
Dadan memaparkan bahwa setiap SPPG membutuhkan setidaknya 15 pemasok bahan baku. Jenis pasokan tersebut meliputi beras, minyak, telur, ayam, sayuran, hingga susu. Kebutuhan ini bersifat rutin dan terjadwal, menyesuaikan dengan jumlah penerima manfaat di wilayah masing-masing.
Secara rinci, satu SPPG membutuhkan sekitar 5 ton beras per bulan. Untuk sekali proses memasak, dibutuhkan sekitar 3.000 butir telur, 350 ekor ayam, 350 kilogram sayuran, serta 450 liter susu untuk satu kali pemberian MBG. Selain itu, kebutuhan jangka panjang juga mencakup sekitar 1,5 hektare kebun pisang per tahun.
Dampak Langsung pada Peternakan Nasional
Selain sektor pertanian, dampak besar MBG juga dirasakan di sektor peternakan. Untuk memenuhi kebutuhan telur pada 2026, BGN memperkirakan dibutuhkan setidaknya 6 juta ayam petelur baru. Angka ini setara dengan kebutuhan minimal 1.500 peternak baru agar pasokan telur dapat terpenuhi dua kali dalam sepekan.
Kebutuhan ini menunjukkan besarnya dorongan ekonomi yang dihasilkan dari program MBG. Permintaan yang konsisten memberikan peluang bagi peternak kecil dan menengah untuk berkembang, sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis produksi nasional.
Efek Berantai terhadap Komoditas Protein
Dadan juga menyoroti besarnya kebutuhan protein hewani dalam program MBG. Ia mencontohkan bahwa untuk satu kali memasak dengan menu daging sapi, setiap SPPG membutuhkan satu ekor sapi. Jika menu tersebut disajikan secara serentak, maka dibutuhkan sekitar 19.000 ekor sapi dalam satu kali masak.
“Karena satu kali masak saja kalau daging sapi itu butuh satu ekor sapi satu SPPG. Jadi kalau kami informasikan satu hari kita makan sapi, maka 19.000 ekor sapi harus ada dalam satu kali masak. Jadi itu dorongan ekonomi yang luar biasa terhadap pertanian,” pungkasnya. Pernyataan ini menegaskan skala dampak MBG terhadap rantai pasok pangan nasional.
Program Gizi sebagai Penggerak Ekonomi
Dengan anggaran yang mencapai triliunan rupiah per hari, MBG menjadi salah satu program pemerintah dengan efek ekonomi terbesar. Selain tujuan utama meningkatkan status gizi masyarakat, program ini menciptakan permintaan stabil bagi produk pangan lokal dan membuka peluang usaha baru di sektor hulu hingga hilir.
Ke depan, keberlanjutan program MBG akan sangat bergantung pada kesiapan produksi dalam negeri. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, MBG tidak hanya berfungsi sebagai program kesejahteraan, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi berbasis pangan nasional pada 2026 dan seterusnya.